Sabtu, 23 Juni 2012


Teori Dasar Penelitian Kwalitatif

Oleh: DR. Adirozal, M.Si.



TEORI-TEORI KRITIS

          Teori kritis muncul di kalangan ilmuwan sosial di frankfurt (Jerman), merupakan kritik terhadap perkembangan masyarakat dengan maksud membebaskan manusia dari belenggu budaya teknokrat modern (Magni-Suseno, 1992:160)
          Berawal dari ketidakpuasan, Jurgen Habermas dkk, melahirkan teori kritis sebagai alternatif dari hegemoni kapitalisme dan positivisme, agenda kerja dari teori sosial alternative ini adalah menggugat dominasi epistemology positivistic dan ingin membuka ruang akademik bagi pendekatan-pendekatan ilmu-ilmu social lainnya untuk saling tukar konsepsi dan teori. Harapannya, bisa membka ruang berpikir (think space) yang sama bagi ilmuwan-ilmuwan sosial dengan berbagai pendekatan yang berbeda untuk memajukan ilmu-ilmu taraf kritisisme.
          Teori kritis muncul dikalangan ilmuwan sosial di Frankfurt (jerman), merupakan kritik terhadap perkembangan masyarakat dengan maksud membebaskan manusia dari belenggu budaya teknokrat modern (Magnis-Suseno, 1992:160).
          Teori kritis tidak hanya bersifat kontemplatif, melainnya juga bermaksud mengubah, membebaskan manusia dari belenggu yang dibuat sendiri, ingin mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia.
          Teori kritis pada dasarnya merupakan usaha pencerahan (Magnis-Suseno, 1992:160), yakni bermaksud menciptakan kesadaran kritis terhadap “kemajuan-kemajuan” kehidupan manusia. Teori kritis hendak menyingkap kemajuan semu yang berkembang, misalnya : rasionalisasi dari akal budi obyektif ke akal budi instrumentalis menghasilkan irasionalitas karena akal budi kehilangan otonomi dan menjadi alat belaka (Sindhunata, 1982:121).
          Mungkin teori kritis mampu membebaskan ilmu-ilmu sosial dari ancaman kemacetana :
  1. Pelurusan terhadap teori-teori kritis yang selama ini disalah mengerti dan memang sengaja dibiaskan oleh kelompok kelas tertentu demi kepentingan komunitasnya.
  2. Pengangkatan kembali pemikiran tokoh-tokoh yang selama ini dinilai sebagai pencetus teori kritis seperti Paulo Freire, Gramsci, Kadafi, dan Foucault yang dianggap sebagai bapak post-modernisme. Ketiga, kritik terhadap kebangkitan hegemoni kolonialisme modern dalam wujudnya neo-liberalisme melalui gerakan globalisasi yang tengah tren saat sekarang ini.

FfØr
Mazhab Frankfurt dan Teori Kritis
          Kekuatan Nazisme di Jerman, dan kemudian timbulnya perang ideologi antara Barat dan Timur (Kapitalisme dan Sosialisme), berdampak buruk bagi kalangan cendikiawan yang konsen dalam kajian sosial khususnya. Cendikiawan, dengan pemikiran kirinya harus menerima keterasingan, bahkan diasingkan jauh dari negaranya. Kenyataan pahit ini diterima oleh cendikiawan pada kelompok kajian yang tergabung dalam institut FfOr Sozialforschung (institut Penelitian Sosial), di Frankfurt. Namun ditengah pengasingan, para cendikiawan Institut itu tetap melakukan proses penelitiannya hingga mereka bersatu kembali pada 1950, setelah beberapa tahun pindah ke Amerika.
          Mereka gelisah, mereka cemas dan oleh karena itu merasa harus bertindak dengan cara mereka sendiri demi mempertanggungjawabkan karunia kecerdasan dan hati nurani yang mereka miliki. Hingga akhirnya karya-karya mereka, baik yang berbentuk buku maupun makalah, menjadi kajian penting bagi cendikia diluar mereka.
          Latar belakang inilah yang menyatukan mereka ke dalam sebuah visi dan misi sekaligus aksi yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mazhab, yakni Mazhab Frankfurt.
          Satu alasan utama bagi relevansi Mazhab Frankfurt adalah sangat kaya dan bervariasinya karya yang dibuat berdasarkan pengaruh tokohnya, semisal Max Horkheimer, Eric Fromm, Theodor Wadorno dan lainnya yang sangat terkenal akan kebrilianan pemikirannya.
          Termasuk generasi penerus pemikiran mereka, semisal Jurgen Habermas, Alfred Schmitt, dan Albrecht Wellmer. Bahkan, seperti dikutip penulis, Foucaolt sendiri pernah mengatakan : “Jika saja aku mengenal Mazhab Frankfurt sewaktu muda, besar kemungkinan aku tidak akan tergoda untuk melakukan apapun dalam hidupku kecuali mengomentari mereka. Namun, pengaruh mereka terhadapku tetap retrospektif, pengaruh mereka padaku kerasakan ketika aku tidak lagi di usia “penemuan-penemuanb” intelektual.”
          Sejarah Mazhab Frankfurt yang ditulis oleh martin Jay ini mencoba memotret dinamika yang terjadi dalam Mazhab Frankfurt, proses yang harus dilewatinya dalam melahirkan karya-karya brilian yang hingga saat ini masih diperhitungkan dikencah kajian ilmu-ilmu sosial, sampai perbentukan pemikiran dan kepentingan dengan pihak kawan maupun lawan.



          Ketika Mazhab Frankfurt hadir, kapitalisme Barat dengan Jerman sebagai salah satu wakil yang terkemuka telah memasuki tahap yang secara kualitatif baru, sedangkan keberhasilan sosialisme Uni soviet terkesan ambigu. Disinilah, menurut Martin Jay, Teori Krisis semakin dipaksa menempati posisi transendan seiring dengan semakin pudarnya kelas pekerja revolusioner.
          Teori Krisis, sebagaimana namanya, diekspresikan melalui serangkaian kritik terhadap pemikiran dan tradisi-tradisi filsafat lain. Perkembangannya kemudian berlangsung melalui dialog. Kelahirannya berkarakter dialektis sebagaimana metode yang ingin diterapkan kepada fenomena sosial. Maka tak heran bila inti dari Teori Krisis, menurut Martin Jay adalah kebencian terhadap sistem filosofis yang tertutup.
          Teori Krisis tidak melihat dirinya hanya sebagai ekspresi kesadaran sebagai satu kelas, melainkan menyatukan dirinya dengan kekuatan ‘progresif’ yang berkeinginan untuk ‘menyatakan kebenaran’. Ketika lahirnya Teori krisis, filsafat dialektika yang diterapkan Hegelian dan Marxisme tak lain hanyalah merupakan imajinasi dialektika yang diterapkan Hegelian dan Marxisme tak lain hanyalah merupakan imajinasi dealiktis belaka. Oleh sebab itu, Teori Krisis menolak memberhalakan pengetahuan sebagai sesuatu yang terpisah dan lebih penting dari pada tindakan.
Kebringasan sosial yang terjadi beberapa tahun terakhir menjadi nota bukti, bahwa masyarakat sedang dalam kondisi sakit. Ketidakbecusan ilmu dan ilmuwan sosial dalam menterjemahkan dan memformulasikan persoalan memperparah keadaan. Padahal pilihan akan masyarakat yang sehat nalarnya adalah jelas. Tulisan ini, dengan bahasanya yang berapi-api tipically nya mahasiswa, mengajak untuk memiliki sikap yang tegas terhadap ilmu dan ilmuwan sosial. Karena selama ini ilmu sosial macet, tidak mampu berpesan sebagai penjaga masyarakat (the guardian of society).

Pemikiran Juergen Habermas
Juergen Habermas sebagai pembaharu teori krisis melakukan penelitian tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dengan kepentingan. Menurut teori krisis, dibalik selubung obyektivitas ilmu-ilmu tersembunyi kepentingan-kepentingan kekuasaan (magnis-Suseno, 1992:182). Menurut Habermas, ilmu pengetahan hanya muncul karena berkaitan dengan kebutuhan manusia yang fundamental, dan hal ini bertentangan dengan pandangan umum yang berlak bahwa ilmu-ilmu bebas dari kepentingan 4 dan nilai (value free). Atas dasar itulah, Habermas membedakan ilmu-ilmu menjadi tiga kelompok, yakni (1) ilmu-ilmu empiris-analitis, (2) ilmu-ilmu historis – hermeneutis, dan (3) ilmu-ilmu tindakan (reflektif-krisis) (ibid.183). Ilmu-ilmu empiris-analisis (misal:ilmu alam) bertujuan pada penguasaan alam dengan cara mencari hukum-hukum yang pasti sehingga manusia dapat menyesuaikan diri dengan alam bahkan memanfaatkannya (ibid). Ilmu-ilmu historis-hermeneutis bertujuan memahami lingkungan dalam interaksi dan bahasa, yakni menangkap makna (ibid). Maksud dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan saling pengertian dengan tujuan tindakan bersama (ibid). Ilmu-ilmu tindakan, merupakan penekanan dari habermas, bertujuan membantu manusia dalam bertindak bersama dalam rangka pembebasan, dengan metode dasar reflektif atas sejarah subyek manusiawi (ibid).
Menurut Habermas, pekerjaan dan komunikasi (interaksi) merupakan tindakan dasar manusia(magnis-Suseno, 1992:187). Bekerja adalah sikap manusia terhadap alam dan komunikasi adalah sikap terhadap sesama manusia (ibid). Dalam pekerjaan, hubungan manusia-alam tidak simetris, manusia mengerjakan alam sedangkan alam bersifat pasif (ibid). Melalui pekerjaanlah manusia menguasai alam.
Dalam komunikasi, manusia berhubungan dengan manusia lain secara simetris timbal-balik, saling mengakui kebebasan masing-masing (ibid). Menurut Habermas, pekerjaan dan komunikasi berjalan menurut aturan yang berbeda dan mempunyai rasionalitas yang berbeda pula (ibid).
          Pekerjaan merupakan tindakan yang memuat rasional sasaran, maka merupakan tindakan instrumental. Sedangkan komunikasi merupakan interaksi yang dilakukan secara simbolis menggunakan bahasa dan norma-norma. Tujuan pekerjaan terletak di luar pekerjaan itu sendiri sedangkan komunikasi bertujuan mengembangkan kpribadian orang. Pekerjaan dilakukan dengan landasan aturan teknis, sedangkan interaksi didasari oleh norma-norma yang hanya dapat dijamin keberlakuannya memlaui kesepakatan dan pengakuan bersama. Dengan demikian, teori perkembangan masyarakat bukanlah proses yang sederhana dalam dimensi keterampilan teknis, melainkan juga dalam dimensi normatif-etis: disinllah koreksi terhadap teori Marx (Magnis-Suseno, 1992:188).

POST MODERNISME
          Postmodernisme (pasca modernisme) adalah gerakan kebudayaan yang menentang gerakan modernisme dan filsafat-filsafatnya serta kecenderungannya ke arah keaneka-ragaman, kelimpahan dan tumpang tindihnya berbagai citraan dan gaya yang satu sama lain tidak saling berhubungan, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi, pendangkalan makna kebudayaan dan sebagai gambaran dari fenomena budaya dalam ruang lingkup dan aspek yang lebih luas. (4) Postmodernisme sebagai suatu gerakan intelektual/kultural yang kontroversial dan merupakan campuran dari keberagaman aliran pemikiran, tradisi , dan masa lalu, yang didasari oleh keraguan akan kemampuan modernisme dalam mewujudkan janji-janjinya yaitu masyarakat ilmiah yang adil dan makmur berdasarkan sains telah menjadi suatu fenomena baru, yang kemunculannya, ibarat sebuah ledakan yang mengagumkan sekaligus membuat bingung dan cemas.
          Beberapa kecenderungan dasar umum postmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka keranjang, misalnya :
  1. Kecenderungan menganggap segala klaim tentang “realitas” (diri subyek, sejarah, budaya, Tuhan, dsb) sebagai kontruksi semiotis, artifisial dan ideologis
  2. Skeptis terhadap segala bentuk keyakinan tentang “substansi” objektif (meski tidak selalu menentang konsep tentang universalitas)
  3. Realitas bisa ditangkap dan dikelola dengan banyak cara dan sistem (pluralisme)
  4. Paham tentang “sistem” sendiri dengan konotasi otonom dan tertutupnya cenderung dianggap kurang relevan, diganti dengan “jaringan “, “relasionalitas” ataupun “proses” yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis
  5. cara pandang yang melihat segala sesuatu dan sudut oposisi binerpun (either-or) dianggap tak lagi memuaskan: segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses (maka istilah “postmodernisme” sendiri pun mesti dimengerti dalam interelasinya dengan “modernisme”, alih-alih melihatnya sebagai oposisi)
  6. melihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya: emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dsb
  7. Menghargai segala hal”lain” (otherness), yang lebih luas, yang selama ini tidak dibahas atau bahkan dipinggirkan oleh wacana modern (mis. Kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama, sehingga segala hal dan pengalaman yang selalu mengelak dan pola rumusan kita).

Akan tetapi, keluasan memang berarti juga kekaburan. Inilah memang masalahnya: kekaburan istilah”posmodern” sebagian besar adalah karena kekaburan istilah”modern” itu sendiri. “modern” dalam arti mana yang dikritik “posmodernisme” itu. Berbagai kekisruhan dalam menempatkan tokoh mana dijalur mana berakar pada persoalan itu. Artinya, kendati posmodernisme bisa dicanangkan prinsip-prinsip dasarnya yang sama, yang membuatnya bisa mencakup demikian banyak aliran, toh selalu bisa juga dilihat perbedaan-perbedaannya pada tingkat rincian-rincian. Dan sudut ini, Foucault bisa dilihat baik sebagai salah satu tokoh posmodern sekaligus juga tokoh modern, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.

Stuart Sim adalahseseorang yang sudah sering menulis dan membahas posmodernisme. Ia telah menghasilkan satu buku tentang estetika postmodern, dua buah kamus yang menyangkut posmodernitas (Sim 1995 dan 1999), sebuah buku panduan teori posmodernitas (Sim 2001), dan biografi ahli posmodern terkenal, Jean-Francois Lyotard (Sim 1996). Dengan kata lain Sim seharusnya sudah memahami batasan-batasan metode narasi dalam komunitas seperti yang selalu dikritik oleh teoris posmodern.
Salah satu ciri kuat Postmodernisme adalah kecenderungan melakukan dekonstruksi pemikiran. Kecenderungan membongkar kemapanan berpikir orang modern yang dianggap benar karena rasional dan logis. Hal ini kemudian direnungkan lebih jauh oleh Michael Foucoult dari sudut pandang kuasa. Menurutnya, kemapananberpikir seperti ini harus didekonstruksi untuk mengeliminasikannya dari unsur kuasa. Dalam hal ini ia mengaku sangat didukung oleh teori Psikoanalisis Freud sangat terkenal itu.

Perkembangan Konsep Postmodern
          Pada tahun 1930-an muncul romatisme dalam seni sastra, dan realisme serta naturalisme dalam seni rupa. Pada dasawarsa 1940-an muncul individualisme, eksistensialisme, dan humanisme universal di kalangan karya sastra. Pada tahun 1950-an dan 1960-an faham marxisme dan realisme sosial masuk di lingkungan karya sasra. Dilingkungan seni rupa muncul ekspresionisme, surealisme, realismerne, dan abstraktisme. Dilingkungan karya satra muncul sufisme, eskapisme, formalisme, strukturalisme, adaisme, realisme ferninisme, dan freudianisme. Dan deskripsi di atas impak indikasi bahwa aestetic discourses lebih berkembang individual, atau dalam bahasa Mikel Dufrene karya sastra merupakan karya en-soi, atau malahan dalam pemaknaan posmo dapat menjadi en-moi. Adapun scientific discourses sebagi karya ilmiah merupakan karya pour-soi. Sebagaimana diketahui, karya ilmiah tampil dalam era-era yang dapat diperiodisasikan: menjadi positivisme dalam berbagai ragamnya, juga postpositivisme, dan postmodernisme.
          Istilah postmodern dipakai pertama kali oleh Frederico de Oniz pada tahun 1934 dalam konsep yang jauh berbeda dengan konsep yang berkembang sekarang. Postmodernisme menurut d4e Oniz hanyalah periode peralihan (dalam sastra) dan moderisme awal ke modemisme dengan kualitas lebih tinggi.



          Arnold Toynbee pada tahun 1947 menggunakan kata postmodern sebagai ciri peralihan politik dan pola pemikiran negara nasional ke interaksi global.
Politik budaya Bnineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity menurut penilaian ini merupakan konsep yang valid bagi postmodemisme, karena salah satu ciri utama postmodernisme adalah pengakuan pluralisme budaya. Barulah pada tahun 1970-an postmodernisme sebagai filsafat ditampilkan oleh Loytard dalam suatu seminar antar ahli filsafat.

Holisme dan Postmodernisme         
          Holisme merupakan gebrakan terhadap hard science yang analitik dalam ilmu-ilmu sosial. Konsep holisme pertama muncul dalam psikologi Gestalt dan berlanjut sampai mazhab ketiga yaitu psikologi humaristik. Pada era sekarang setelah muncul telah spiritualistik pada studi agama, dan berkembang pula studi psikologi transpersonal dan psikologi transhuman. Salah satu promovendus penulis berupaya membangun paradih psikologi trnspersonal.
          Postmodernisme berkembang baik dalam ilmu sosial maupun phisika. Salah satu yang menon, berupa timbulnya non standart logics pada keduanya. Pemikir linier, terpola atau mengikuti konstruk atau paradigma yang ada diragukan kemampuannya untuk menjawab berbagai masalah yang berkembang sangat pesat. Sehingga diperlukan pemikiran yang sangat cerdas kritis kreatif dengan mendekonstruk alur fikir mapan yang ada.
          Dengan demikian holisme menjadi gebrakan positivisme analistik, digantikan dengan holisme postpositivisme dan dilanjutkan dengan postmodernisme yang mengkonstruk. Dan secara berkelanjutan mendekonstruk, baik knowlage maupun being nya.
          Postmodenisme tetap mengakui rasionalitas, tetapi memberi kebebasan kepada manusia untuk menempuh jalan krisis kreatif divergen dalam mencari kebenaran. Postmodernisme bukan hendak membuktikan kebenaran, melainkan hendak mencari kebenarannya.
          Rasionalitas pada era modern telah dimaknai pada kepentingan kerja, dan direduksi menjadi efisiensi tas kriteria untung rugi: dan direduksi lebih lanjut menjadi pragmatik. Sedangkan kebebasan yang dicitakan oleh Kant dan Hegel berpadu dengan rasionalitas, lenyap dan pemikiran modernisme. Habermas sebagai tokoh akhir modernisme kritis evolusioner memakai rasionalitas atas tiga kepentingan, yaitu : kepentingan kerja, kepentingan interaksi, dan kepentingan emansipatori. Dengan rasionalitas dan Habermas terbuka peluang manusia untuk memiliki kebebasannya.
          Dalam era postmodernisme kebebasan tampil dalam wujud manusia selaku subyek pencari kebenaran. Manusia bukan obyek yang dikendalikan oleh struktur dan sistem tertentu untuk mencari kebenaran. Itu berarti bahwa model logika yang dikemukakan di atas tidak hendak digunakan begitu saja, karena manusia akan menjadi obyek, bukan subyek lagi. Dalam postmodern tugas manusia adalah mencari kebenaran, bukan membuktikan kebenaran.
          Dekonstruksi merupakan gebrakan postmodernisme terhadap pemikiran modernisme yang fungsionalis, struktural dan paradigmatik. Postmodemisme mendekonstruk pemikiran fungsionalis yang terkesan mempertahankan kemapanan kapitalis, mendekontruk atas strukturalisme makna konvensional dan berupaya mencari makna baru, sehingga postmodern juga disebut poststrukturalis dan postmodern mendekontruk paradigma yang ada, atas kecurigaan kemampuan paradigma konvensional memecahkan masalah baru yang muncul, sehingga postmodemisme juga disebut postparadigmatik.
          Dalam berfikir konvensional, meskipun juga modern, kiaster K menampilkan alternatif inspiratif untuk membangun konstruksi teori yang solid integratif komprehensif. Gestalt, siapa yang menyanggah? Integrasi, sinkrun dan harmoni serta koherensi, merupakan pola fikir menyatu. Siapa yang menolak bila kita menampilkan pemikiran seperti itu? Thermostatik didasarkan pada ide temperatur yang mengatur secara otomatis kapan pendingin berfungsi dan kapan berhenti otomatis, dipakai sebagai inspirasi untuk menampilkan teori perkembangan kemasyarakatan.
          Hal yang unik adalah klaster L dalam berfikir konvensional, meskipun juga termasuk modern, bila sesuatu konstruksi teori itu terdapat kontradiksi intern, terdapat hal yang dilematik, terdapat yang paradoksal ditandai orang sebagai bangunan teori yang lemah, yang tidak valid. Tetapi dengan maraknya berfikir dekonstruksi, banyak ahli mutakhir menampilkan bangunan teori yang paradoksal, yang momok kontradiksi intern. Unik memang di lingkungan sastra telah cukup lama berkembang cara penyajian akhir cerita tanpa liding dongeng, tanpa ending yang dibuat penulis cerita.







POST STRUKTURALISME    
          Kecenderungan Post strukturalisme untuk mengkritik konsep tentang manusia sebagai subjek rasional, konsep metafisis tentang pengetahuan, kebenaran, identitas dan sejarah adalah salah satu landasan paling meyakinkan yang digunakan oleh Posmodernisme  memang merupakan sumber yang subur bagi argumen-argumen postmodernisme.
Gilles Deleuze adalah salah seorang filosof kontemporer Prancis yang menulis dua jilid buku tebal tentang tinjauan filsafat atas sinema, berjudul Movement-Image dan Time-Image. Dalam buku tersebut Deleuze yang sering dianggap sebagai salah satu eksponen poststrukturalisme, membahas sinema dengan membaginya ke dalam dua kelompok. Pertama, sinema yang menghasilkan suatu imaji tentang waktu yang disajikan dalam subordinate gerak. Di sini waktu yang diukur secara dinamis sebagai sebuah proses aksi reaksi dalam ruang yang disambung secara berurutan. Kedua, sinema yang menghancurkan kronologi. Di sini, waktu mengalami fragmentasi sehingga masa lalu, masa kini dan masa depan tak dapat dikenali, karena masa menjadi eternal present. Bagaimana pandangan Deleuze lebih jauh tentang sinema? Diskusi ini menghadirkan Panji Wibowo, penikmat film dan filsafat yang sudah cukup lama menggeluti buku Deleuze tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar