Selasa, 26 Juni 2012

SEJARAH SENI RUPA TIMUR


Oleh : Adirozal
BAB II
SENI RUPA INDIA

A. Sekilas Sejarah India
India berasal dari nama salah satu sungai yang ada di jazirah ini yaitu sungai Sindu. Untuk mengetahui penduduk pertama yang mendiami jazirah India sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi bila dirujuk lebih awal ke sejarah turunnya manusia ke bumi, maka manusia pertama sebagai nenek moyang manusia, Siti Hawa diturunkan Allah disekitar jazirah India. Begitu juga bila melihat secara geografi maka India dahulunya diyakini bertautan dengan Indonesia dan benua Australia. Hanya saja setelah itu dipisahkan karena pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan naiknya air pada masa glacial.
Negeri ini telah memiliki taraf kemajuan kebudayaan semenjak 2.300 SM. Bukti kemajuan itu diketahui dari penyelidikan terhadap dua buah kota kuno yaitu Harappa dan Mohenjo-Daro. Dari hasil penyelidikan atas kemajuan kebudayaan India ini ditemukan seni bangunan, kemampuan menulis, gudang-gudang tempat menyimpan makanan, dan tepian tempat mandi. Kemajuan India dalam soal beragamapun juga telah lama sebelum nabi Isa a.s lahir. Dari jazirah ini pula lahir agama Brahmana dan Budha Gautama.
Perkembangan sejarah India yang begitu panjang tentu meliputi sejarah kesenian mereka. Khusus tentang sejarah seni rupa India yang diketahui sekarang dan dikaji dimulai pada masa bangsa Arya menyerbu daerah ini sekitar 2.000 – 1.200 SM. Bangsa  Arya ini mendesak penduduk yang telah mendiami India yakni bangsa Drawida.
Sejarah perkembangan India selanjutnya dipengaruhi dan diwarnai dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar di jazirah ini. Hubungannya dengan luar negeri dan agama juga
memberi andil dalam mempengaruhi perkembangan budaya negeri ini. Agama yang dominan mempengaruhi sejarah India adalah Hindu, Budha dan Islam. India yang dimaksud dalam sejarah ini meliputi negara India, Pakistan, Banglades, dan Sri Langka. Tiga negara terahir (Pakistan, Banglades, dan Sri Langka) yang merupakan bahagian dari India sebelumnya kemudian berpisah menjadi negara merdeka.


Peta 1
India dengan beberapa negara tetangga

Kerajaan-kerajaan besar masa Hindu dan Budha yang terkenal adalah dinasti Maurya (322-185 SM). Kerajaan ini terletak bagian utara India sebagai pusat pemerintahannya Pataliputra dengan rajanya Candragupta Maurya. Kerajaan-kerajaan lain yang terdapat bagian Selatan India seperti; Dinasti Andhra (225 SM – 225 M) dengan rajanya yang dikenal luas dan banyak dijumpai dalam cerita-cerita termasuk di Indonesia yaitu Catawahana. Kebudayaan Wengi (Vengi) yang berpusat di kota Amarawati terdapat dalam dinasti ini. Dinasti Pallawa pada tahun 350 M – 897 M  dengan ibu kota Kancipuram. Raja yang terkenal pada masa ini Narasimha Warman I memerintah sekitar tahun 630 M. Raja ini memajukan kesenian dan membangun pelabuhan. Raja terahir dinasti Pallawa dikalahkan Aditya dari Chola pada tahun 897 M. Dinasti Chola menguasai sebagian besar India selatan yang meliputi Madras, Srilangka dan Mysore. Puncak kejayaan dinasti ini pada masa raja Rayaraya I (985- 1014 M) dengan pusat pemerintahan di Tanyore. Selain itu ada dinasti Calukya (600 M – 753 M). Raja yang terkenal pada masa dinasti Calukya adalah Palakecin II memerintah pada tahun 609 – 642, pusat pemerintahan di Badami (Bombay). Semua kerajaan dan dinasti di atas merupakan kerajaan Hindu dan Budha. Setelah itu perkembangan kerajaan dan budaya India dipengaruhi oleh agama Islam
Islam masuk ke India melalui Iraq ketika negeri Iraq dibawah pemerintahan amir Al Hajjaj. Panglima perang Iraq yang ditunjuk untuk memasuki India sangat muda berusia 17 tahun bernama Muhammad bin Al-Qasim. Pada abad ke 8 penguasa Islam sudah mulai tampil di India. Adalah Mahmud Ghazna yang menggabungkan India utara dan barat ke pusat kerajaannya di Afganistan. Pusat kerajaan di pindahkan ke Delhi adalah semasa pemerintahan Kutb al-din Aibak.
Pemerintahan Islam selanjutnya yakni dinasti Mughal (Mogul) pada tahun 1526 sampai 1739 yang didirikan oleh Sultan Zahiruddin yang digelari Babur. Pada masa ini ia mampu menciptakan pemerintahan yang kuat karena kesatuan dan keteraturanya dalam sistem pemerintahan. Pemerintahan ini hanya bertahan sekitar 200 tahun dan setalah itu kerajaan kecil dan orang-orang Hindu mulai menyusun kekuatan dan menggerogoti dinasti ini serta melepaskan dominasi orang Islam.
Pada masa akhir dinasti Mugul ini sebenarnya telah tumbuh kekuatan imperealis/ kolonial barat di jazirah ini. Orang-orang Portugis telah bermukim di jazirah ini pada sekitar tahun 1500 M. Kemudian disusul oleh bangsa barat lainnya yang ambisiusnya lebih dari bangsa Portugis yakni Perancis dan Inggeris. Ambisinya itu telihat dalam keterlibatan mereka dalam politik. Pada tahun 1877 Ratu Inggeris yang bernama Victoria memproklamirkan bahwa jazirah India dibawah kekuasaannya.
Semenjak itu perkembangan India terurama dari budayanya mendapat pengaruh dari bangsa imperialis Inggeris sampai pada abad ke 20. Pada masa ini rasa nasionalis bangsa India tumbuh namun seiring dengan itu sentimen keagamaan  juga berkembang yakni antara Hindu dengan Islam. Dari rasa sentimen agama ini melahirkan negara baru Pakistan dan Banglades yang moyoritas Islam sedangkan India dan Sri Langka lebih didominasi Hindu.
Sebagaimana dikemukakan bahwa perkembangan seni rupa di India dipengaruhi oleh Hindu, maka ada baiknya diketehaui sekilas tentang Hindu, Jaina, dan Budha.
1. Hindu
Bangsa Arya yang hidup di kampung-kampung kecil sekitar tahun 1800 sampai 800 SM pada umumnya menyembah dewa. Mereka menggunakan bahasa sangsekarta dan lebih dekat dengan bangsa Indo-Eropa di Yunani dan Romawi. Dalam kitab Veda sebagai kitab suci kuno dari agama Hindu menurut Syofyan Salam (1999) merupakan risalat agama Indo-Eropa yang tertua berisi lagu-lagu pemujaan untuk penghormatan kepada dewa langit, dewa matahari, dewa badai, dewa bumi dan sebaginya.
Tahun 800 – 500 SM dihasilkan karya keagamaan Brahmana dan Upanisad. Dalam Brahmana diuraikan tentang kitab Veda yang menyangkut cara penyembanhan kepada dewa-dewa. Kaum Brahmana menjadi sangat penting dalam prosesi penyembahan pada dewa-dewa terutama dalam tata cara pemberian sesaji.
Kitab Upanisad lebih banyak membicarakan tentang hakekat rokh (Brahma), dunia rokh sebelum sampai pada tujuan akhir dia akan hidup beberapa kurun waktu dalam tubuh yang kasat mata. Kehidupan yang berkali-kali dalam tubuh itu dikenal dengan reinkarnasi. Kitab ini berisi ajaran mengenai landasan berfikir atau filosofis.
Pada masa ini juga masyarakat Hindu dibagi atas empat kasta. Pertama kasta Brahman yang dianggap kelompok tertinggi atau terhormat, yang termasuk dalam kasta ini adalah para pendeta. Kedua kasta Ksatria yang terdiri dari kaum bagsawan dan prajurit. Kelompok seniman, pedagang, dan petani termasuk pada kasta Waisya. Kemudian kasta Sudra yang terdiri dari para budak atau rakyat jelata. Pembagian kasta ini tentu tidak terlepas dari hegemoni para tokoh agama dan bangsawan atas bangsa drawida yang termasuk dalam kelompok sudra.



2. Jaina
Awalnya agama ini merupakan sebuah reformasi berpikir dari agama Hindu, salah seorang keluarga bangsawan bernama  Mahawira mendirikan sekte sekitar tahun 500 SM, ia lebih muda dari Sidharta Gautama (pendiri agama Budha). Ia menentang kehidupan bangsawan yang diliputi oleh kekuasaan dan kemewahan, Mahawira pergi mengembara selama 12 tahun untuk mencari arti kehidupan. Pengembaraannya diformulasikan dalam sebuah ajaran ahimsa yang melihat setiap kehidupan bernyawa adalah suci dan tidak boleh diganggu. Segala sesuatu yang ada di dunia ini hakekatnya berjiwa seperti batu-batuan, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, maka manusia harus memperlakukan dengan selayaknya.
Di samping itu ajarannya ini adalah bahwa tidak boleh membunuh makhluk bernyawa, harus bersikap jujur, tidak mencuri, tidak memiliki harta. Untuk melepaskan diri dari kehidupan dunia yang materialis adalah dengan bertapa dan mensucikan diri. Mahawira terus menyebarkan pemikirannya ini sebagai sebuah ajaran agama.

3. Budha
Pada tahun 563 SM di Kapilawastu lahirlah Sidharta Gautama yang mendirikan ajaran Budha. Kehadiran ajaran Budha tidak lepas dari hasil perenungan Sidharta yang didapat dari pengembaraannya dalam kehidupan yang keras. Ia yang lahir dari keturunan bangsawaan melepaskan atributnya dalam pengembaraannyanya, hal ini sama dengan Mahawira.
Hal pokok dalam ajaran Budha dalam mencapai kehidupan surgawi adalah dengan cara melepas kehidupan duniawi. Maka dalam hal ini penderitaan merupakan susuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan, keinginan diri harus harus dirusak, dikekang, dan dibunuh. Pengembaraan diperlukan dengan meminta-minta sambil melakukan disiplin tertentu.
Ajaran Budha yang lahir di India ini sebelumnya kecil (hinanaya) selanjutnya berkembang menjadi besar (mahayana). Perkembangannya yang pesat terjadi semasa raja Asoka pada dinasti Maurya. Awal abad ke 6 ajaran ini terdesak oleh Hindu dan selanjutnya bergerak ke arah timur India kemudian lenyap. Ajaran Budha kemudian menyebar ke negeri tengganga India seperti Sri Langka, Tibet, Cina, Jepang, Burma, Thailand, dan Indonesia.

B. Seni Rupa India

Ada berbagai karya seni rupa India yang menonjol dan memberi pengaruh terhadap perkembangan seni rupa Indonesia. Karya seni rupa India yang memberi pengaruh besar itu adalah arsitektur seperti candi dan bangunan lainnya, lukisan dan ukiran/ relief yang bersumber cerita mahabrata. Sejarah India kuno memiliki berbagai macam hasil kebudayaan, antara lain  seni lukis, seni patung, seni bangunan (arsitektur), seni kerajinan, seni busana dan lain sebagainya. Disetiap kebudayaan memiliki perbedaan masing-masing dan juga memiliki pengaruh ke Indonesia.
Karya-karya seni rupa India terutama lukisan sudah ditemui semenjak zaman prasejarah sekitar 5.500 SM. Perkembangan seni rupa India seiring dengan perkembangan budaya dan masuknya pengaruh agama. Sebagaimana diketahui karya seni di India tidak semata-mata bertujuan keindahan melainkan ditujukan untuk pemujuan dan  memperdalam kehidupan kerohanian. Pengaruh agama seperti Budha, Hindu, dan Islam banyak menjadi insipiarsi seniman dalam berkarya.
Dalam mengapresiasi seni rupa India harus dipahami latar belakang agama yang mendasarinya. Karya-karya seni rupa India bersifat simbolis tidak dibuat berdasarkan ekspresi tok. Ada aturan-aturan tertentu dalam membuat karya, aturan-aturan itu sangat baku seperti proporsinya, bentuk-bentuk, dan warna yang digunakan. Jika terjadi penyimpangan dari aturan maka karya itu dianggap tidak bermanfaat walau karya tersebut indah dan halus (eksperisif). Hal ini tidak lepas dari maksud seni dibuat tidak untuk memuaskan rasa estetis seniman melainkan untuk mempertinggi martabat dewa dan memperdalam rasa keagamaan.
Terjadinya berbagai variari dalam karya disebabkan pengaru lokal dan perkembangan zaman. Pengaruh agama juga menimbulkan style karya seperti awalnya Budha tidak dibuat dalam bentuk patung figuarif melainkan motif pohon bodhi, telapak kaki, ataupun motif hias roda. Bagian atas candi atau atap pada abad 9 sampai abad 13 dibuat dalam bentuk ujung peluru.

1. Seni Lukis India
Sejarah dan perkembangan seni lukis India tidak sedahsat perkembangan seni patung dan arsitekturnya. Data tentang seni lukis India amat terbatas terutama data-data seni lukis masa-masa dinasti yang berkuasa di India. Namun seni lukis India tentulah tetap ada sebagaimana ditemukannya lukisan yang terdapat di gua Ayanta.
Seni lukis zaman Ayanta ini merupakan seni lukis yang dianggap menemukan tingkat kemajuan yang tinggi waktu itu. Ada dua tahap perkembangan seni lukis masa ini yakni pertama abad 2 AD dan tahap kedua pada abad ke 5 AD di bawah naungan Vakatakas yang memerintah di Deccan.
Karya-karya lukis dibuat dari filosofi yang dalam, yang anggun dan agung. Bila dilihat dari teknik seni lukis moderen maka lukisan sudah sangat maju. Hal ini dapat dilihat sudah adanya pemahaman perspektif yang dapat dilihat pada bagian tiang-tiang.

.
 Gambar 1
Lukisan Visvantara Jataka, gua 17 abad 5, Ayanta
Objek gambaran adalah adegan dari kehidupan Budha dan Jatakas, cerita orang melahiran. Lukisan ini membawa kita ke keindahan besar dengan sangat halus terhadap makna hidup dan berbagai tahapan realita. Pencari kebenaran yang dilukis pada dinding goa Ayanta, merupakan penggambaran kehidupan roh yang meliputi seluruh dunia. Lukisan-lukisan di goa Ayanta menjadi sumber inspirasi lukisan-lukisan Budha di seluruh Asia.
Disamping itu ditemukan lukisan abad 6 pada hindu Badami dari gua-gua di Karnataka. Lukisan-lukisan terdapat pada semua dinding dan langit-langit goa yang ditutup dengan mural. Lukisan pada abad ke 7 juga dijumpai di Yang Pallava Raja sekarang Tamil Nadu. Tema-tema lukisan memberi ekspresi bergairah dan kemuliaan yang berkaitan dengan Siva. Dalam lukisan di candi Panamalai dan Kailashanatar di Kancheepuram abad ke 10 lukisan-lukisan dengan tema yang sama menjadi simbol kemegahan kaum bangsawan raja-raja Chola.


Gambar 2
Raja Rajaraja Chola dan Guru Karuvurar Brihadeeswara
di candi Tamil Nadu
 Ada juga lukisan dari akhir abad ke 9 (Jaina) di gua-gua di Ellora. Para pelukis di sini melanjutkan tradisi lama, tetapi dengan kontribusi dari mereka sendiri. Selain naturalisme dan ide-ide dari warisan Ayanta, angka dan huruf dilukis dengan penggayaaan atau distilirisasi. Corak ini adalah perubahan signifikan yang kemudian tercermin dalam lukisan dan kaligrafi di Indonesia.
Di Kasmir masih kawasan India terdapat corak baru perkembangan lukisan waktu itu. Selain temanya yang tidak saja pengambaran para dewa melainkan juga dewi. Lukisan-lukisan itu sama di berbagai tempat lain yakni terdapat didinding goa. Berbagai tema lukisan jumpai pada masa ini, seperti tentang manusia, kesunyian, dan kebesaran.
Gambar 3; Dewi sebagai penyelamat.
Lukisan-lukisan yang terdapat didinding-dinding goa, dan bagian atasnya menjadi insipirasi bagi perkembanganan seni lukis mural di India sampai berabad-abad kemudian. Lukisan-lukisan itu dibuat di dinding dan atap atau bagian atas candi, kuil, dan stupa. Umumnya tema-tema lukisan mengenai pemujuaan terhadap dewa dan tentang kehidupan, sedang tujuan lukisan untuk peningkatan rasa keagamaan dan kemanusian.
Bagian utara India seni lukis pernah mengalami kejaan pada abad ke-16, yang waktu itu daerah ini di bawah masa pemerintahan maharaja Mughal Akbar. Pada masa ini pernah lahir sebuah miniatur yang tinggi mutunya yakni miniatur yang terdapat di pengadilan.

Gambar 4
Parvati dengan sahabat-sahabatnya, Lepakshi, Andhra Pradesh,
abad ke 16, lukisan ini mencerminkan budaya kosmopolitan
Orang kaya dengan beragam tekstil

Kualitas lukisan dinding yang baik dari Rajasthan ditemukan di Amer Bhojanshala dekat Istana Jaipur. Ini adalah lukisan yang sangat indah abad 17 di India. Pada lukisan ini (gambar 5) pelukis memperlihatkan gambaran kedekatan dan persahabatan yang kuat. Lukisan diekspresikan di atas tembok dan dibuat dalam skala kecil untuk mural. Namun, pelukis mampu mengungkapkan dengan kepekaan dan kecermatannya menciptakan sebuah gambaran keintiman antara pengamat dan lukisan.

Gambar 5
Krishna dengan Gajah, Bhojanshala,
Amer Palace, Rajasthan, Abad ke-17
Gambar 6; Lukisan Siva abad 18 Chamba

Lukisan Siva seperti gambar di atas terdapat pada candi Shivdwala, Chamba, Himachal Pradesh. Lukisan Siva ini mengungkapkan dunia keindahan dan kemurnian. Siva digambarkan dengan lemah lembut dan penuh kasih pada dataran sebelah timur India, yang merupakan negara kaya. Ini adalah sebuah contoh yang langka dari tradisi kuno mural India berbeda dengan miniatur yang dibuat pada dinding dengan tema-tema lukisan kisah Ramayana.
Seni lukis India terutama lukisan didinding yang terdapat di goa, candi, dan kuil juga dapat ditemui di daerah Punjab. Mural dari Punjab mungkin menjadi tahap akhir lukisan dinding di India. Pada lukisan-lukisan terdapat wajah khas dari Punjab. Tema-tema dan caranya yang sangat berakar pada budaya lokal. Ada rasa sepi yang bermartabat, yang terbaik yang muncul dalam lukisan ini.. Lukisan mural ditemukan tersembunyi jauh di candi di tengah-tengah pasar yang sibuk di Amritsar, di kuil di desa seperti Kishankot, Qila Mubarak, dan Qila Androon dalam benteng Patiala.  
Lukisan-lukisan India terutama yang bertemakan kisah Ramayana banyak mempengaruhi seni lukis Bali corak tradisi. Selain tema lukisan beberapa teknik dan pewarnaan juga banyak dipengaruhi lukisan India. Seni lukis dinding, seni relief Indonesia juga mendapat pengaruh dari mural India. Sebagaimana diketahui sampai saat ini di Bali masih banyak penganut agama Hindu dan juga beberapa tempat di Jawa. Dari fakta ini maka pantas kesenian India mempengaruhi berbagai kesenian di Indonesia terutama di daerah tersebut.

Gambar 7
Lakshmana di candi Viranchinarayan Orissa Abad 18.

2. Arsitektur India

Karya arsitektur India sama halnya dengan seni lainnya, ia pun dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Beberapa arsitektur India seperti stupa, candi, dan kuil berkaitan dengan agama Budha, Hindu, dan Jaina. Artinya bangunan-bangunan itu selain berfungsi untuk tempat pemujaan juga tempat tinggal bikhsu. Misalnya komplek stupa selain sebagai monumen juga berfungsi tempat pemujaan, di situ ada chaitya dan wihara sebagai tempat pertemuan, tempat pemujaan dan sekaligus tempat tinggal bikhsu.
Bangunan-bagunan ini sebagai bukti sejarah kemajuan budaya India. Selain berarsitektur bagus bagunan-bagunan itu terbuat dari bahan batu. Bagunan yang terbuat dari bahan batu ini sangat tahan. Beberapa karya arsitektur India senantiasa menjadi bahan kajian dan bahasan karena di antara karya-karya seni India maka seni bagunan ini lah yang masih tersisa sebagai bukti  peninggalan sejarah.
Stupa merupakan salah satu bagunan suci berfungsi sebagai monumen peringatan Budha. Bangunan ini mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya. Pada awalnya bentuk stupa sangat sederhana, bagai onggokan tanah setengah lingkaran, kemudian berkembang dengan penambahan bentuk kiri, kanan, depan belakang, dan bagian atas. Bahannya pun berubah dari tanah menjadi batu. Walaupun bahan stupa dari tanah atau batu namun bila melihat arsitekturnya sangatlah bagus karena selain ada patung ada ornamen-ornamen.
Stupa yang merupakan tempat suci bagi penganut Budha sekaligus sebagai tempat pemujaan. Di dalam stupa tersimpat benda-benda suci. Perkembangan arsitektur stupa lebih banyak di luar India sebagaimana perkembangan agama Budha itu sendiri. Di daerah Thailand tempat berkembangnya agama Budha maka stupa dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dengan arsitektur yang indah, megah dan berkesan mewah.
Arsitektur India lainnya adalah chaitya dan wihara, dua  bangunan ini tidak begitu sering dibahas. Bagunan ini berupa gua atau bukit yang dikerok. Umumnya bangunan ini sebagai tempat pertemuan, tempat tinggal bikhsu (bertapa atau menyendiri) dalam upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Chaitya dapat berupa stupa, altar, dan bahkan pohon karena maksudnya adalah tempat pemujaan. Chaitya yang dibuat di bukit bentuknya empat persegi panjang dengan ujung bagian dalam berupa setengah lingkaran tempat meletakkan patung budha. Kiri kanan menuju ceruk (setengah lingkaran) disangga oleh tiang, bagian atas melengkung, bagian depan atau pintu masuk dihiasi dengan berbagai relief.
Chaitya yang paling tua dibuat sekitar 150 SM yaitu chaitya Bahaja. Perkembangan arsitektur chaitya selanjutnya dalam bentuk penambahan interior dan eksteriornya, ukuran, dan bahan-bahan yang digunakan. Chaitya yang terkenal terdapat di Karli dan dibuat pada masa dinasti Andhra abad ke 1 dan ke 2 M.
Kemampuan dalam menggali bukit, menyangga, dan membuat ornamen menunjukkan telah majunya budaya India pada abad ke 1 M. Pada pintu masuk chaitya tampak kesan keanggunan dan sekaligus juga kesan ritual. Pemilihan lokasi juga sangat menentukan perpaduan antara ritualitas dan seni bangunan.
Gambar 8; Chaitya di Bhaja abad ke 2 SM

Wihara atau juga ada yang menamakan bihara adalah tempat tinggal bikhsu untuk melaksanakan kebaktian. Sebelum datangnya agama budha ke India maka orang-orang India sudah terbiasa hidup menyepi dalam menghindari diri dari keramainan. Kebiasaan ini menjadi subur ketika agama Budha berkembang di India, sehingga banyak pula dijumpai wihara peninggalan arsitektur India.
  Sama halnya dengan chaitya maka wihara juga bukit yang dikerok. Bedanya denah wihara bujur sangkar sebagai tempat utama pertemuan kemudian di sekelilingnya terdapat ruang-ruang kecil tempat bikhsu. Awalnya wihara hanya tempat tinggal bikhsu kemudian dilengkapi dengan patung budha sehingga fungsinya juga berkembanag sebagai tempat pemujaan.  Wihara yang terkenal terdapat di Ajanta yang dibangun pada abad ke 2 sampai abad ke 7 M.
Arsitektur India yang sering dibicarakan adalah candi, mungkin karena bagunan ini yang memberi pengaruh besar di Indonesia. Candi Borobudur, candi Mendut, candi Prambanan dan candi-candi lainnya di Indonesia semuanya mendapat pengaruh dari India. Perkembangan candi itu sendiri searah dengan perkembangan agama budha dan hindu di India.
Bukti sejarah arsitektur candi yang masih dapat dilihat sekarang terdapat di Bodhgaya. Tempat suci untuk pemujaan telah didirikan oleh Ashoka sejak abad 3 SM. Sedangkan candi baru didirikan oleh dinasti Kushan (78 – 176 M) yang terkenal dengan candi mahabodhi. Arsitektur mahabodhi yang ada sekarang telah mengalami berkali-kali pemugaran. Candi mahabodhi berbentuk bujur sangkar dengan atap berbentuk bujur sangkar.
Setiap saat candi mahabodhi ini sering dikunjungi oleh peziarah baik dari dalam maupun dari luar India. Peziarah ini menjadi donasi bagi pemugaran candi sehingga sampai sekarang bangunan ini mengalami berkali-kali pemugaran. Jadi sekarang candi ini lebih banyak sebagai tempat ziarah dibanding sebagai tempat ritual. Sekarang tidak banyak penganut agama budha melakukan ritulitas keagamaan di candi ini, mungkin sama kasusnya dengan candi-candi di Indonesia yang lebih banyak sebagai artefak.
Telah banyak teori yang mencoba menjelaskan perihal bagaimana caranya pengaruh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai ke kepulauan Indonesia. Hal yang sudah pasti adalah berkat adanya pengaruh tersebut penduduk kepulauan Indonesia kemudian memasuki periode sejarah sekitar abad ke-4 M. Menurut J.L.A Brandes (1887) penduduk Asia Tenggara termasuk yang mendiami kepulauan Indonesia telah mempunyai 10 kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu:

a. mengenal pengecoran logam,
b.mampu membuat figur-figur manusia dan hewan dari   batu, kayu, atau lukisan di dinding goa,
c. mengenal instrumen musik,
d. mengenal bermacam ragam hias,
e. mengenal sistem ekonomi barter,
f. memahami astronomi,
g. mahir dalam navigasi,
h. mengenal tradisi lisan,
i. mengenal sistem irigasi untuk pertanian, dan
j. adanya penataan masyarakat yang teratur.

Setelah berinteraksi dengan para pendatang dari India, maka terjadi asimilasi. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang tidak mereka kenal sebelumnya, seperti: aksara (pallawa), agama Hindu dan Buddha, serta penghitungan angka tahun (saka).
Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia berkembang dengan pesatnya, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuno. Dari hasil asimilasi budaya ini akhirnya menemukan sesuatau bentuk baru dan pencapaian itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.
Konsekwensi logis dengan diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi berkembang. Hal itu dapat diamati secara nyata dalam bidang seni arca dan seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan Hindu atau Buddha. Penguraian perihal ajaran agama disampaikan dengan cerita-cerita yang melibatkan para ksatrya.
Sebagaimana biasanya seni tradisonal maka karya arsitektur juga  tidak disebutkan dan tidak diketahui seniman pembuatnya. Karya-karya seni secara umum dibuat sebagai persembahan bagi kegiatan keagmaan. Dengan demikian seni lukis, patung dan arsitektur tradisional India tidak diketahui pembuatnya. Karya tersebut dianggap sebagai suatu karya komunal, suatu karya yang didedikasikan bagi kehidupan agama dalam masyarakat. Dari penyelidikan sejarah yang bisa diketahui adalah masa karya tersebut dibuat, tahun pembuatan dan di bawah masa pemerintahan atau dinastinya.
Begitu juga dengan karya arsitektur kuno di Indonesia amat sukar untuk diketahui seniman pembauatnya. Hasil penelitian hanya dapat mengungkapkan dan menyimpulkan relief cerita apa saja yang dipahatkan di Candi Borobudur, berapa kubik balok batu yang dipergunakan untuk membangun candi itu, berapa jumlah stupanya. Jadi tidaklah dapat diketahui siapa arsitek perancangnya. Jangankan arsiteknya, nama raja yang menganjurkan untuk mendirikan Candi Borobudur pun sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti.
Karya Arsitektur awal yang masih dapat bertahan hingga kini dari masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Jawa hanya beberapa bangunan saja. Misalnya Candi Gunung Wukir di Magelang, beberapa candi di dataran tinggi Dieng, candi-candi Gedong Songo di Ambarawa (Jawa Tengah), dan Candi Badut di Malang (Jawa Timur). Di antara candi-candi tersebut yang dihubungkan dengan prasasti yang berkronologi adalah Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal (tahun 732 M) dan Candi Badut dengan prasasti Dinoyo (tahun 760 M).
Awalnya bagunan sakral Indonesia terbuat dari bahan yang mudah rusak, seperti ijuk, jalinan rumput ilalang kering, kayu dan bambu. Bangunan yang terbuat dari bahan ini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Pada sekitar awal abad ke-9 terjadi perombakan besar-besaran terhadap bangunan-bangunan suci demikian, dengan ditambahi dengan dinding, relung-relung, serta struktur atap yang terbuat dari bahan yang tahan lama seperti tanah dan batu. Pendapat itu didasarkan pada dijumpainya beberapa susunan perubahan dan tambahan pada beberapa candi di Jawa Tengah, misalnya pada candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di daerah Prambanan, dan candi-candi Perwara di kelompok percandian Sewu.
Masuknya pengaruh budaya India melalui perdagangan ke masyarakat Jawa, maka bangunan-bangunan suci yang didirikan di Jawa pun dibuat sesuai dengan kaidah ajaran Hindu atau Buddha. Bentuk candi-candi di Jawa kemudian ada yang mirip dengan kuil-kuil pemujaan dewa yang ada di India.
Pengaruh itu tampak pada beberapa bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah di mana bentuk arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti Pallava bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng.
Jika diamati arsitektur bangunan suci masa Gupta dan sesudahnya serta arsitektur masa dinasti Pala di timur laut India menjadi salah satu pengembangan bangunan-bangunan candi di Jawa bagian tengah. Begitupun bangunan Candi Bima di Dieng tampak pertalian bentuknya dengan bangunan suci Orissa di India.
Bentuk-bentuk monumen keagamaan Hindu-Buddha di Jawa pada masa silam banyak dipengaruhi oleh arsitektur India. Hal tidak lepas dari agama Hindu atau Buddha yang datang dari India dengan mudah diterima oleh masyarakat. Dengan sendirinya konsep-konsep dasar tentang pembuatan bangunan suci, arca, dan ornamen juga diterima masyarakat.
Selanjutnya arsitektur bangunan suci di Jawa tidak lagi mengadopsi bentuk-bentuk dari India. Bentuk arsitektur bangunan suci di wilayah Jawa Tengah sudah berkembang dengan bentuk tersendiri, kecuali pada seni arca dan ornamennya. Misalnya Candi Barong dan Candi Ijo di Jawa Tengah yang halamannya dibuat bertingkat-tingkat sebagaimana layaknya punden berundak dalam masa prasejarah.
Arsitektur bangunan di Jawa semakin berkembang ketika periode Klasik Muda. Di wilayah Jawa Timur (abad ke13—15 M) arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha berkembang dengan gayanya tersendiri, seperti candi-candi bergaya Singhasari, gaya candi Jago, gaya candi Brahu, dan punden berundak.
Konsepsi pembangunan candi adalah perpaduan dewata tertinggi (Hindu dan Budha), misalnya kehadiran nafas Siva dan Buddha akan dirasakan pada arsitektur Candi Jawi (Pasuruan) dan Candi Jago (Malang). Di Candi Jawi, unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di relung-relung tubuh candinya dahulu berisikan arca-arca Hindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita relief yang dipahatkan banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva, adapun arca-arca pelengkap candi itu semuanya bernafaskan Buddha Mahayana.
Perbandingan arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di India dan Jawa dirasakan adalah adanya parallelism (kesejajaran)  setelah agama Hindu-Buddha dari India diterima oleh masyarakat Jawa Kuno. Awalnya pengaruh India banyak mengilhami arsitekrut bangunan keagamaan di Jawa (sekitar abad ke-8 M), ketika peradaban Hindu-Buddha baru mulai marak berkembang. Namun pada priode-periode selanjutnya karya arsitektur Jawa Kuno berkembang tersendiri.
Kesamaan arsitektru itu dapat diamati dalam hal konsepsi dasarnya, sedangkan dalam segi visualisasi atau dalam bentuk kebudayaan materi (bangunan, arca dan relief), terdapat perbedaan. Kalaupun ditelusuri lebih mendalam konsepsi keagamaan pun tetap ada perbedaan. Perlu diingat visualisasi kebudayaan materi adalah berangkat dari ide atau konsepsi. Jika ada pertanyaan mengapa candi-candi di Jawa berbeda dengan kuil-kuil pemujaan dewa di India, bisa jadi hal itu karena cerminan konsepsi masyarakat pendukungnya.
Walaupun agama datang dari India ke Jawa namun mendapat sentuhan pendeta-pemikir Jawa Kuno, lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siwa-Buddha. Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah asalnya.

Gambar 9
Sri Ranganatha Swamy Temple Srirangapatnam
Gambar 10; breehadeswara India
3. Seni Patung dan Relief India

Sebagaimana telah disinggung pada bagian awal bahwa kemajuan kebudayaan India terbukti dari tata kota dan arsitektur pada lembah sunggai Indus. Selain dari tata  kota dan aritektur yang telah maju pada dua pusat kebudayaan di lembah sungai Indus (Harappa dan Mohenjodaro) juga kemajuan patungnya. Karya-karya seni patung teracotta, batu kapur, dan logam telah dibuat dua kota itu. Patung yang dibuat figur manusia dan binatang.
Patung figur manusia yang dibuat melambangkan dewi kesuburan. Patung ini hampir sama dibanyak tempat dimana dewi kesuburan dibuat dengan pinggul besar dan buah dada yang menonjol dan pakai perhiasan kepala serta kalung. Patung teracotta berfungsi sebagai mainan dengan mengambil objek binatang seperti lembu, burung, gajah, dan badak.

Gambar 11
Patung Dewi Kesuburan

Kebudayaan India yang telah maju dari dulu juga dapat dilihat buktinya pada seni Patung dan seni relief. Di Mohanjodaro ( 2000 – 1750 SM) orang India telah mampu membuat patung/relief. Sebagai buktinya dapat dijumpai peninggalannya patung logam wanita menari yang berukuran 10 cm. Patung logam (perunggu) ini memperlihatkan orang India asli dengan ciri bibir tebal dan rambut keriting. Sedangkan di Harappa (2300 – 1750 SM) juga dijumpai patung dewa yang terbuat dari batu berukuran 17, 5 cm. Juga ada patung torso terbuat dari batu kapur. Penggarapan patung torso ini menggunakan pendekatan realistis yang menunjukkan sifat vitalitas dan monomental.
Selain seni patung yang telah maju di lembah sungai Indus, maka seni reliefnya (2000 SM) pun juga berkembang. Seni reliefnya terdapat pada materai yang berfungsi magis. Penggarapannya sudah sangat halus, materai terbuat dari steatite berbentuk persegi dengan ukuran ¾ sampaii 1 ½ inci. Berbagai bentuk relief yang jemlahnya ribuan bermotifkan objek binatang (badak, buaya, rusa, lembu, dan stilisasi binatang) dan objek simbol (swastika, roda, dan daun). Selain motif-motif itu juga ada motif manusia yang sedang duduk dalam posisi yoga. Relief dengan motif manusia terdapat di Mohenjodaro. Bila melihat hiasan kepala yang digunakan pada relief motif manusia ini maka dapat dikaitkan dengan dewa Syiwa.
Setelah masa kebudayaan di lembah sungai Indus maka sejarah perkembangan seni patung India tidak begitu menonjol. Satu hal yang dapat dikemukakan bahwa seni patung India diperuntukkan untuk pemujaan. Perkembangan patung selanjutnya terjadi pada masa pengaruh ajaran Budha.
Di mana pada masa dinasti Maurya (321-184 SM) patung Budha dibuat dalam bentuk simbol yakni patung motif pohon bodhi, patung/ relief  roda ajaran dan stupa. Para penganut budha membuat patung-patung tersebut sebagai sarana pemujaan pada budha. Seni patung budha tertua berupa tiang-tiang batu yang disebut stambha atau dharmastambha.  Pada masa pemerintahan raja Ashoka banyak didirikan stambha dengan tinggi 15 meter dari batu tunggal.

Gambar 12
Motif Hias Simbol Budha
(pohon bodhi, roda ajaran dan stupa)

Stambha yang menjulang itu masih bisa dijumpai di Bihar yang dibagun sekitar 241 SM. Ajakan untuk melaksanakan ajaran Budha dituliskan pada stambha. Pada bagian atas atau puncak stambha terdapat makhota berupa binatang (lembu, singa atau gajah) dan lempengan batu berelief dan kapitil.
Perkembangan seni patung India kian terasa pada masa awal masehi. Pada masa ini orang India mulai bersentuhan dengan budaya luar yakni Yunani dan Romawi. Orang-orang India belajar cara membuat patung dalam bentuk figur manusia yang lebih ditail pada bangsa Yunani/ Romawi yang telah dulu memvisualisasi dewanya dalam bentuk patung. Pengaruh patung Yunani/ Romawi itu terlihat pada patung-patung pada bagian utara-barat India.
Selain sejarah panjang tentang seni patung India baik pada masa Mohenjo-daro maupun dalam masa pengaruh agama Hindu dan Budha yang perlu disimak tersendiri adalah tentang ganesa. Kisah mengenai Ganesa seringkali muncul dalam kitab-kitab Purana. Brown mengatakan, sementara kitab-kitab Purana tidak menyebutkan kapan tepatnya suatu peristiwa terjadi, penuturan kisah hidup Ganesa yang lebih detil ada dalam kitab yang muncul belakangan, sekitar th. 600–1300. Yuvraj Krishan mengatakan bahwa mitos mengenai kelahiran Ganesa dan bagaimana ia memperoleh kepala gajah, ada dalam Purana yang digubah dari th. 600 dan seterusnya. Ia meneliti masalah dan mengungkapkan bahwa referensi tentang Ganesa yang terdapat dalam Purana-purana awal, seperti misalnya Bayupurana dan Brahmandapurana, adalah sisipan di kemudian hari yang dibuat dari abad ke7 sampai abad ke-10.
Nama Ganesa pada mulanya adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah. Beberapa citra menunjukkan ia sedang membawa patahan gadingnya. Hal penting di balik penampilan khusus ini dikandung dalam kitab Mudgalapurana, yang mengatakan bahwa nama penjelmaan Ganesa yang kedua adalah Ekadanta.
Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian maupun kegiatan sehari-hari; khususnya saat mulai berniaga seperti misalnya membeli kendaraan atau memulai bisnis. K.N. Somayaji berkata, "jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganapati.  Ganapati, sebagai dewa yang termahsyur di India, dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara". Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang, ia akan memberi kesuksesan, kemakmuran dan perlindungan terhadap bencana.
Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu, dan umat Hindu dari seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan, memulai usaha yang penting, dan upacara keagamaan. Penari dan musisi, khususnya di India Selatan, memulai pertunjukkan seni seperti misalnya tari Bharatnatyam dengan terlebih dahulu memuja Ganesa. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Ganeshāya Namah (Om, hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia)

Gambar 13; Ganesha

Ganesa (Sanskerta; ganea ) adalah salah satu dewa terkenal dalam agama Hindu dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Lukisan dan patungnya banyak ditemukan di berbagai penjuru India; termasuk Nepal, Tibet dan Asia Tenggara. Dalam relief, patung dan lukisan, ia sering digambarkan berkepala gajah, berlengan empat dan berbadan gemuk. Ia dikenal pula dengan nama Ganapati, Winayaka dan Pilleyar. Dalam tradisi pewayangan, ia disebut Bhatara Gana, dan dianggap merupakan salah satu putera Bhatara Guru (Siwa). Berbagai sekte dalam agama Hindu memujanya tanpa mempedulikan golongan. Pemujaan terhadap Ganesa amat luas hingga menjalar ke umat Jaina, Buddha, dan diluar India.
Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa mahsyur sebagai "Pengusir segala rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan "Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu.
Gambar 14
Ganesa dalam perhiasan berbentuk simbol Aum

Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu (Simbol: juga dieja 'Om'). Istilah o(ng) kāraswarūpa (Aum adalah wujudnya), ketika diidentikkan dengan Ganesa, merujuk pada sebuah pemahaman bahwa ia menjelma sebagai bunyi yang utama. Kitab Ganapati Atharwashirsa memberi penjelasan mengenai hubungan ini. Swami Chinmayananda menerjemahkan pernyataan yang relevan berikut ini
(O Hyang Ganapati!) Engkaulah (Tritunggal) Brahma, Wisnu, dan Mahesa. Engkaulah Indra. Engakulah api (Agni) dan udara (Bayu). Engkaulah matahari (Surya) dan bulan (Candrama). Engkaulah Brahman. Engkaulah (tiga dunia) Bhuloka [bumi], Antariksa-loka [luar angkasa], dan Swargaloka [sorga]. Engkaulah Om. (Itu sebagai tanda, bahwa Engkaulah segala hal tersebut).

Beberapa pemuja melihat kesamaan antara lekukan tubuh Ganesa dalam penggambaran umum dengan bentuk simbol Aum dalam aksara Dewanagari dan Tamil.
Menurut Kundalini yoga, Ganesa menempati cakra pertama, yang disebut muladhara. Mula berarti "asal, utama"; adhara berarti "dasar, pondasi". Cakra muladhara adalah hal penting yang merupakan manifestasi atau pelebaran pokok-pokok kekuatan ilahi yang terpendam. Hubungan Gansea dengan hal ini juga diterangkan dalam Ganapati Atharwashirsa.
Ganesa muncul dalam wujud klasiknya sebagai dewa yang mudah dikenali dengan atribut-atribut yang tergambar dengan baik pada permulaan abad ke-4 sampai abad ke-5. Shanti Lal Nagar mengatakan bahwa arca paling awal, yang diketahui sebagai wujud Ganesa ada dalam sebuah ceruk di kuil Siwa di Bhumra, yang ditafsir berasal dari zaman kerajaan Gupta. Pemujaan tersendiri terhadapnya muncul sekitar abad ke-10. Narain mengikhtisarkan kontroversi antara pemuja Ganesa dan pandangan akademis terhadap

Gambar 15
Arca Ganesa dibuat abad ke-8,
disimpan di museum Cham Vietnam

perkembangan Ganesa sebagai berikut : Apa yang selama ini tak terduga adalah kemunculan Ganesa yang agak dramatis menurut pandangan sejarah. Pelopornya tak jelas. Keterbukaan dan ketenarannya yang luas, yang melampaui batas mahzab dan teritorial, sungguh menakjubkan.
 Di satu sisi ada kepercayaan bagi umat yang ortodoks terhadap asal-usul Ganesa dari zaman Weda dan dalam Purana terdapat penjelasan yang membingungkan, namun merupakan mitologi yang cukup menarik. Di sisi lain terdapat keraguan mengenai adanya gagasan dan arca tentang dewa ini sebelum abad keempat sampai kelima Masehi.
Buku yang ditulis Thapan tentang perkembangan Ganesa mengandung sebuah bab tentang spekulasi mengenai peran kepala gajah pada zaman awal di India, namun berkesimpulan bahwa, "meski pada abad ke-2 Masehi ada perwujudan yaksa berkepala gajah, itu tidak bisa dianggap menggambarkan Ganapati-Winayaka. Tidak ada bukti mengenai dewa yang disebut memiliki wujud gajah atau berkepala gajah pada permulaan zaman ini.

Gambar 16
Arca Ganesa dibuat pada abad ke 5 ditemukan di Gardez,
sekarang di Dargah Pir Rattan Nath, Kabul

Hubungan dagang dan budaya telah memperluas pengaruh India di Asia Barat dan Tenggara. Ganesa adalah salah satu dari banyaknya dewa-dewi Hindu yang menjamah negeri asing. Ganesa khususnya disembah oleh para pedagang yang pergi ke luar India untuk malakukan hubungan dagang. Periode sekitar abad ke-10 sampai seterusnya ditandai oleh perkembangan jaringan-jaringan baru terhadap hal pertukaran, pembentukan serikat dagang, dan bangkitnya sirkulasi keuangan. Selama masa ini Ganesa menjadi dewa utama yang dikaitkan dengan para pedagang. Tulisan paling awal yang mengandung seruan kepada Ganesa sebelum memanggil dewa-dewi lainnya dikaitkan dengan komunitas rombongan pedagang.
Umat Hindu bermigrasi ke nusantara dan membawa budaya mereka termasuk Ganesa. Sehingga arca-arca Ganesa ditemukan di sepanjang wilayah nusantara dalam jumlah yang banyak. Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa, Bali, dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik. Penyebaran budaya Hindu secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma, Kamboja, dan Thailand. Di Vietnam agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan, dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Thailand, Kamboja dan di Vietnam, Ganesa terutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan kini oleh umat Buddha di Thailand, Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan, atau dewa keberhasilan.


Gambar 17
Arca Ganesa di candi Prambanan, Indonesia

Sebelum kedatangan Islam, Afghanistan memiliki ikatan budaya yang erat dengan India, dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan, mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.
Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana, tidak hanya dalam wujud dewa Vināyaka dalam agama Buddha, namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta. Sebagai dewa Vināyaka dalam agama Buddha, ia seringkali digambarkan sedang menari. Wujud ini, disebut Ntta Ganapati, dan termahsyur di wilayah India Utara, kemudian diadopsi di Nepal, lalu di Tibet. Di Nepal, wujud Ganesa secara Hindu, dikenal sebagai Heramba, sangat terkenal; ia memiliki lima kepala dan menunggangi singa. Penggambaran Ganesa di Tibet menunjukkan pandangan yang bertentangan terhadapnya. Ganapati versi Tibet adalah tshogs bdag. Dalam versi Tibet, Ganesa digambarkan sedang diinjak oleh kaki Mahākāla, yaitu dewa bangsa Tibet yang terkenal. Penggambaran lain menampilkan wujudnya sebagai pemusnah segala rintangan, kadangkala dalam wujud sedang menari. Ganesa muncul di Cina dan Jepang dalam wujud yang menampilkan karakter wilayah yang berbeda. Di Cina Utara, ada patung batu dari zaman awal yang dikenal sebagai Ganesa, disertai tulisan yang berangka tahun 531. Di Jepang, pemujaan terhadap Ganesa pertama kali disebutkan pada tahun 806.
Sastra agama Jaina (Jainisme) tidak menyebutkan adanya pemujaan terhadap Ganesa. Namun, Ganesa dipuja oleh banyak umat Jaina, muncul sebagai pengambil alih fungsi Kubera. Hubungan Jaina dengan komunitas perdagangan mendukung gagasan bahwa Jainisme mengambil tradisi pemujaan Ganesa sebagai akibat dari hubungan perdagangan. Patung Ganesa tertua versi Jaina ditaksir berasal dari abad ke-9. Sebuah kitab Jaina dari abad ke-15 memaparkan prosedur untuk memasang citra Ganapati. Citra Ganesa muncul dalam kuil Jaina di Rajasthan dan Gujarat.

4. Pengaruh Seni Rupa India Terhadap Seni Rupa Indonesia

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa perubahan sejarah Indonesia dari pra sejarah terjadi setelah kedatangan agama Hindu-Budha ke kepulauan nusantara. Agama Hindu-Budha sendiri berasal dari India yang masuk ke kepulauan Indonesia melalui pedagang sekitar abad ke 5. Sebelum kebudayaan India masuk ke Indonesia maka di kepulauan nusantara sendiri telah ada kebudayaan.
Pada masa akhir prasejarah bangsa Indonesia telah mengenal berbagai macam keahlian yang dapat mereka pertahankan sampai masuknya budaya India.  Keahlian itu berupa pembuatan seni logam tuang, seni pahat, peralatan pertanian, dan batu besar berbentuk piramida berundak. Begitu juga dengan keyakinan di Indonesia telah ada kepercayaan animisme.
Kedatangan kebudayaan India disambut oleh tangan-tangan kreatif Indonesia. Kebudayaan itu ditranspormasikan ke dalam kebudayaan Indonesia dengan berbagai modifikasi. Menurut Rabindranath Tagore pujangga India yang dikutip Sudarso Sp dalam Perjalanan Seni Rupa Indonesia (1991) menyatakan; “Wir habe das Ramayana geschrieben, die Javanen aber tanzen es. (Kamilah yang menulis cerita Ramayana itu, tetapi orang-orang Jawa yang menarikannya)” Tagore mengagumi betapa cerita Ramayana yang dibuat di India tetapi setelah sampai di Indonesia dibuat dramatarinya dan relief yang realistik di candi Prambanan dan juga yang dekoratif di candi Panataran.
Pada abad-abad pertama terjadi kontak dagang antara Indonesia dengan berbagai negara diantaranya; Persia, India, dan Cina. Pada abad ke 5 terjadi asimilasi secara positif antara kebudayaan India dengan Indonesia. Kedatangan kebudayaan India telah merubah sistem kerajaan Indonesia yang sebelumnya hanya sistem pemukiman. Melalui perintah raja-raja itulah dibuatkan prasasti, dari prasasti ini diketahui bahwa huruf yang digunakan adalah huruf pallawa dari India selatan dengan bahasa sanskerta.  
Perpaduan kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai. Asimilasi ini tidak menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut oleh karena itu kebudyaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja. Ada selektif dan inofasi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini disebakan  masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup baik.  Dengan pondasi ini maka kebudayaan asing yang masuk menjadi bertambah perbendaharaan kebudayaan bangsa Indonesia. Kemampuan istimewa bangsa Indonesia ini disebut dengan local genius yaitu kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai denga kepribadian bangsa Indonesia.
Bukti adanya asimilasi yang baik itu dapat dilihat pada prasasti pada masa kerajaan Sriwijaya yang masih menggunakan huruf pallawa tetapi dalam bahasa Melayu Kuno. Dalam prasasti itu juga di cantumkan peristilahan jabatan Indonesia asli seperti datu dan tuhaan walak. Selanjutnya prasasti-prasasti yang terdapat di Jawa pun telah mempergunakan bahasa dan huruf Jawa Kuno. Dalam bidang kepercayaan maka kepercayaan animisme yang telah ada sebelumnya tidak hilang begitu saja dengan masuknya agama Hindu dan Budha.
Dalam bidang seni rupa maka pengaruh seni rupa India juga terasa. Akan tetapi sama halnya dengan kebudayaan secara umum. Unsur-unsur seni rupa India telah masuk ke Indonesia, terbukti dengan ditemukanya patung berlanggam gandara di kota Bangun Kutai Kalimantan. Ditemukan juga patung budha berlanggam Amarawati di Sikendeng (Sulawesi Selatan). Pada candi Borobudur tampak adanya pengaruh seni rupa India dengan ditemukan relief-relief cerita sang Budha Gautama. Selain relief juga ditemukan lukisan perahu bercadik, lukisan-lukisan tersebut merupakan asli lukisan Indonesia, karena tidak pernah ditemukan motif yang sama di candi-candi di India. Pengaruh seni rupa India juga terdapat pada relief-relief di candi Prambanan yang memuat cerita Ramayana.
Begitu juga dengan seni bangunan atau arsitektur Terdapat kemungkinan bahwa beberapa bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah bentuk arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti Pallawa bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng. Akan tetapi menurut Soedarso Sp dalam Perjalanan Seni Rupa Indonesia (1991) candi yang dibuat pada abad ke 15 merupakan pemunculan kembali bentuk-bentuk punden berundak-undak, hal itu dapat dilihat pada candi Sukuh.

1 komentar:

  1. trimasih banget...... sangat membantu dalam buat tugas skripsi.

    BalasHapus