Senin, 25 Juni 2012

Disertasi : Ukiran Pandai Sikek


ABSTRAK

Adirozal, 2011. Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Disertasi Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Pengajaran ilmu dan keterampilan seni ukir pada sanggar tradisional belum didasarkan pada prinsip-prinsip ilmu kependidikan sehingga cenderung kurang terpola dan terencana dengan semestinya. Berdasarkan hal itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan proses pembelajaran di sanggar serta penerapan high-­touch dan high-tech sehingga terbentuk model pembelajaran yang lebih edukatif sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan.
Disain penelitian ini adalah kualitatif dan data dikumpulkan dari informan yang terlibat dalam proses pendidikan dan pembelajaran seni ukir, seperti pimpinan sanggar, pamong belajar, asisten pamong belajar, warga belajar serta tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan dan memahami tentang keterampilan seni ukir melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi.  Untuk memperoleh data yang valid, observasi yang lebih mendalam dan keterlibatan peneliti yang lebih lama di lapangan (participant observer) sangat ditekankan. Analisis data dilakukan dengan metode kualitatif melalui pengumpulan data yang berkelanjutan dan setelah itu direduksi dan dideskripsikan secara sistematis. Beberapa teori pendidikan, kebudayaan, seni dan model dijadikan sebagai pisau bedah.
Dari analisis data diperoleh hasil bahwa: Pertama, proses pembelajaran pada sanggar tradisional meliputi pengajaran aspek kognitif, afektif dan psikomotor dengan penekanan khusus pada transfer keterampilan seni ukir (aspek psikomotor) yang terdiri atas tiga fase utama; teknik mengukir, mencat dan memindahkan motif serta  menyempurnakan bentuk ukiran. Kedua, penerapan komponen high-touch terlihat dalam bentuk persahabatan, keharmonisan, kehangatan, kejujuran dan reinforcement. Komponen high-tech terlihat pada pengajaran adanya materi ajar sebagai pilar pembelajaran, metode (demontrasi, tanyajawab, diskusi, dan karya wisata), alat peraga dan evaluasi. Juga terungkap bahwa penerapan komponen high-touch dan high-tech tidak terencana tapi hanya diberikan secara insidentil. Ketiga, model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar menunjukkan bahwa keterlibatan warga belajar diutamakan di bawah arahan pimpinan sanggar, pamong dan asisten pamong dalam setiap proses pembelajaran.
Kesimpulannya, proses pembelajaran pada sanggar tradisional Pandai Sikek belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan, diantaranya adalah pembelajaran tidak dipersiapkan dengan baik sebelum proses pembelajaran terjadi. Hal ini menyiratkan bahwa proses pembe1ajaran hanya terfokus pada transfer keterampilan seni ukir yang mengabaikan nilai-nilai pendidikan dan budaya. Untuk itu, disarankan agar sanggar-sanggar tradisional menerapkan prinsip­-prinsip ilmu kependidikan dalam proses pembelajaran sehingga memungkinkan perkembangan keterampilan seni ukir, bukan hanya sekedar mengajarkan seni ukir seperti apa adanya.



 Foto-foto Ukiran oleh Adirozal


Tidak ada komentar:

Posting Komentar